Leader Is Leaden (Memimpin adalah Menderita)


 

“tiap-tiap kamu adalah seorang pemimpin , dan akan dimintai pertanggung jawaban atas yang di pimpinnya !”

Dalam sebuah diskusi malam hari yang sering kali saya dan teman-teman saya lakukan, seorang teman saya bertanya kepada saya. kira-kira seperti ini pertanyaan nya : “Apabila gua telah menyiapkan rencana dengan matang, memaparkan langkah-langkah pelaksanaanya dengan jelas, mendelegasikanya dengan cermat, memberikan dateline dengan pasti , dan menyerahkanya kepada orang-orang yang tepat, tetapi hasil akhirnya tidak sesuai dengan ekspetasi gua . Apakah ini merupakan kesalahan anggota yang tidak mengerjakan bagian tugasnya dengan baik atau tetap kesalahan gua sebagai ketua?” saya pun menjawab kepada teman saya yang baik ini dengan sebuah jawaban, “ini tetap keselahan lu bro !” Kenapa dalam kasus ini saya menyalahkan teman saya yang menjabat sebagai ketua dalam sebuah organisasi mahasiswa ? karena berdasarkan pengalaman dan penelitian secara empiris, saya menyimpulkan bahwa sudah selayaknya seorang pemimpin menyadari tanggung jawab pribadi yang dibebankan di pundaknya, sebagai penentu apakah organisasi ini akan selalu memperoleh kemenangan sehingga di percaya sebagai tim pemenang ? ataukah akan selalu tercipta kesalahan, yang memang tidak pernah diharapkan , sehingga secara konstan menerima kegagalan dan dikenal sebagai tim pecundang ? Lalu bagaimana jika kasus yang terjadi tepat seperti yang telah di gambarkan di atas ? mengapa tetap menjadi kesalahan seorang pemimpin atau ketua ketika yang sebenarnya melakukan kesalahan adalah anggota yang tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya ? Tidak dapatkah kita menyalahkan bawahan karena mereka yang mengacaukan tujuan ,strategi, dan rencana yang telah ditetapkan ? Jawabanya adalah tidak. Anggota mungkin memang salah dalam melaksanakan tugasnya, tetapi yang patut disalahkan tetaplah ketua mereka, yang secara sengaja ataupun tidak sengaja membiarkan anggota melakukan kesalahan , yang mungkin saja sebenarnya telah diketahui akan terjadi oleh anda . terlebih lagi jika anda sebagai ketua tidak mengetahui jika yang dilakukan oleh anggota anda akan mengacu kepada timbulnya kesalahan.

“Seorang anggota dapat melakukan kesalahan, tetapi tetap menjadi tanggung jawab ketua yang membiarkan kesalahan itu terjadi”
Saya teringat sejarah kehidupan saya ketika pertama kali memahami arti penting dari sebuah tanggung jawab kepemimpinan, yaitu ketika dipercaya sebagai ketua himpunan mahasiswa di jurusan saya . selama satu tahun kepengurusan, jarang sekali dalam malam malam saya, saya dapat tertidur dengan nyenyak tanpa sedikitpun berfikir tentang apa yang selanjutnya bisa saya lakukan untuk menjaga amanah ini dengan lebih baik lagi. Hal ini mengarahkan saya dari seorang pribadi yang rajin dalam kuliah menjadi seorang mahasiswa yang sering tidak masuk dalam kuliah , yang memang seharusnya bukan sesuatu yang patut dibenarkan atau dijadikan pembenaran. Says selalu berusaha menunjukkan keteladanan, dedikasi, dan kesungguhan saya dalam bekerja bersama rekan-rekan pengurus, yang sampai hari ini kami tetap bersahabat dengan sangat dekat, dalam bekerja untuk mentukseskan apa yang kami percayai sebagai organisasi pembela dan penyambung aspirasi mahasiswa.
Benar kata salah seorang senior saya yang pernah mengatakan bahwa “Skill kepemimpinan tertinggi dalam memimpin bawahan yang akan menciptakan perasaan amanah adalah keberanian dalam mengakuo bahwa segala kesalahan yang terjadi adalah sebenarnya adalah kesalahan saya(Pemimpin)”
Ketika anda menjadi seorang pemimpin yang berani dan berlapang dada mengakui bahwa sebenarnya permasalahan yang terjadi di dalam organisasi adalah mutlah karena kesalahan anda, di sinilah akan mulai timbul rasa mawas diri, mengayomi, mengasihi, melayani, dan sikap bersungguh-sungguh dalam menjalani kepemimpinan. Anda akan selalu berusaha memberikan usaha terbaik dalam setiap tugas yang di kerjakan sehingga yakin bahwa setiap tugas akan berakhir dengan keberhasilan. Seandainya pun gagal , anda sudah merasa puas karena telah memberikan kemampuan terbaik dan mengarahkan kemampuan terbaik dari bawahan sehingga pada akhirnya tidak ada yang perlu disalahkan ketika kegagalan itu menghampiri, yang secara pasti akan anda dapatkan sesekali dalam kepemimpina anda. Saat ini, sampailah kita pada alasan utama mengapa dalam setiap ketidakberesan organisasi, pasti yang persalahkan adalah pemimpin mereka ? saya merangkum lima alasan utama mengapa memang seorang pemimpin harus mengatakan, “Sebenarnya memang semua ini adalah kesalahan saya.” Dalam setiap ketidakberesan yang menjadi dalam kepemimpinanya.
  1. Pemimpin sebagai penentu arah

Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah, “bukankah anda yang menentukan ke arah mana bawahan anda harus berjalan ?” bukankah anda yang seharusnya paling tahu apakah bawahan sedang berjalan menuju arah yang tepat ataukah mereka melangkah menuju jalan yang salah ? bukankah adna yang mengetahui titik akhir pencapaian yang harus di capai, sedangkan bawahan hanyalah berjalan mengikuti instruksi anda ? 

 

  1. Pemimpin sebagai penyusun rencana

Lalu, mungkin anda akan berkata, “Arah perjalanan saya di tentukan oleh atasan saya.” Lalu saya akan kembali kepada dengan pertanyaan, “Bukankah sebagai seorang pemimpin, anda menyusun rencana untuk memastikan bawahan dapat menyelesaikan apa yang harus tugas yang diberikan dengan hasil yang optimal? Cara-cara baru apa yang harus di ciptakan agar mampu memudahkan bawahan mengerjakan tugasnya sehingga dapat terselesaikan dengan usaha yang lebih sedikit, tetapi dengan hasil yang lebih baik ? ataukan anda seorang pemimpin yang hanya pasrah, go-with-the-flow saja dalam memastikan tercapainya produktivitas optimal sesuai dengan tujuan organisasi ? inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus anda jawab sebagai seorang pemimpin yang memiliki kesediaan untuk mengambil tanggung jawab pribadi dalam kepemimpinan. 

 

  1. Pemimpin sebagai pemilih oran-orang yang tepat

Pembelaan diri ketiga yang biasanya dilakukan adalah,”Saya mendapat orang-orang kurang kompeten yang telah di tentukan oleh perusahaan” . inilah tantangan ketiga dari seorang pemimpin, menentukan orang yang tepat untuk tugas yang tepat. Bukankah setelah beberapa bulan bekerja bersama, selayaknya anda sudah mampu memetakan kompetensi dari setiap bawahan langsung anda ? Lakukanlah re-assignment, beranilah untuk mengutak-atik penugasan sesuai dengan pemetaan kompetensi yang telah anda lakukan, beri orang yang kompeten dan berdedikasi tinggi dengan tugas yang lebih berbobot, orang yang berkompetensi kurang pada tugas yang sedikit mempengaruhi hasil, sambil anda mendidik mereka agar mampu mengerjakan tugas yang lebih tinggi lagi. 

 

  1. Pemimpin sebagai pengontrol

Bukankah anda sebagai pemimpin ditugaskan untuk memastikan hasil ? lalu apa yang harus dilakukan untuk memastikan hasil? Tiga urutan sederhana untuk ini melakukannya adalah menciptakan rencana, mengkomunikasikanya, lalu yang terakhir memastikan rencana tersebut terlaksana dengan baik. Kebanyakan pemimpin , ahli dalam urutan pertama dan kedua , tetapi gagal pada urutan ketiga, yang paling menentukan. Pembelaanya adalah, “Bukankah itu tugas anggota gue untuk mengawasi aplikasi dari rencana tersebut ?” lalu pertanyaan yang muncul adalah, “Siapa yang memastikan tugas pengontrolan dari bawahan anda, agar berjalan dan terkomunikasikan dengan benar kepada anda ? ketika bawahan anda tidak mampu mengontrol dengan sehingga terjadi kesalahan dalam penerapannya, lantas siapa yang bertanggung jawab ?” Saya yakin anda sudah tahu jawabannya !
  1. Pemimpin sebagai pengevaluasi

Jika permasalahan yang timbul telah terjadi selama berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun, pertanyaan yang timbul adalah , “Siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab untuk mengevaluasi kinerja yang di lakukan oleh bawahan ? siapa yang mengetahui titik-titik keberhasilan yang hendak di capai sehingga bisa membandingkan antar realita hasil yan di dapat dengan tujuan awal yang ingin di capat ?” Keefektifian komunikasi dalam mengevaluasi kinerja inilah yang menentukan apakah tim kerja anda semakin hari semakin meningkat ke arah produktivitas yang lebih baik, tidak berubah, atau malah mengarah kepada yang lebih buruh. Mungking dengan membaca lima hal di atas anda mulai berpikir bawa saya adalah pemimpin yang pro kepada anggota ? bukan itu tujuan saya dalam penulisan artikel sederhana ini . saya ingin menggugah nurani anda untuk berfikir, bersikap, dan bertanggung jawab dalam menjalankan kepemimpinan. Di tangan andalah prestasi bawagan bisaa melejit atau hancur. Andalah yang bertanggung jawab dalam menentukan karier dan masa depan bawahan anda, lengkap dengan semua tanggungan keluarga yang mereka miliki, karena berda dalam bimbingan kepemimpinan anda. Ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai pemimpin untuk memastikan bahwa tim kerja/organisasi/divisi/bidang yang kita pimpin dapat selalu memberikan hasil terbaik sesuai dengan ekspetasi organisasi kita, bahkan jika perlu melebihinya. Terima kasih kepada kalian yang telah menghabiskan waktu anda untuk membaca artikel ini . semoga kita semua masih di berikan nikmat untuk menyelami ilmu Allah SWT Amiin .
Iklan ada di sini

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim